Ubuntu Linux: Sebuah Pengalaman

Baru-baru ini gw baru coba pakai Ubuntu, sebuah distro Linux yang (katanya sih) cukup bagus. Ubuntu itu sebuah distro yang “serius”, terbukti dari adanya dana buat kirim-kirim CD gratis dan support bertahun-tahun. Orang-orang di forum juga banyak yang merekomendasikan Ubuntu sebagai distro pilihan pertama buat siapa saja yang baru pertama kali pegang Linux. (Gw BUKAN sedang bicara tentang usus buntu lho :D)

Sebenarnya gw udah beberapa kali sih pegang Linux, tapi belum pernah sampai meng-install di harddisk rumah sendiri. Gw pernah dapet LiveCdnya Knoppix kira-kira tahun 2005; tapi gak berkesan tuh >.< soalnya suaranya kagak muncul dan resolusi layar terbesar cuma 800×600… Trus beberapa bulan yang lalu saya coba SLAX yang bootable dari USB (download di mana lagi kalo bukan di warnet gratis Jl Menteng Raya 64? ;) ). Tapi hasilnya sama juga, suara tidak bisa terdeteksi dan resolusi maksimum 800×600. Trus lemotnya itu loh… (maklum karena CD dan USB lebih lambat dari harddisk).

Terus gw coba deh Ubuntu! (didownload dan burn di warnet yang sama pula ^^). Gw coba versi 6.10 Edgy Eft (sekarang udah keluar 7.04 Feisty Fawn...). CD yang didownload adalah sebuah LiveCD sekaligus CD install – konsep yang bagus! Tidak seperti LiveCD lain yang gak jelas apa gunanya :p Jadilah gw boot dengan LiveCD tersebut.

O iya sebelum menimbulkan persepsi macam-macam, komputer gw gak bagus kok, cuma Pentium IV 1.6 GHz, RAM 256 MB, VGA cuma 32 MB Intel onboard (jelek kan!?!?!?). Rasanya sih cukup untuk Ubuntu saja.

LiveCD dan Proses Instalasi

Awalnya kita disuguhi sebuah menu – mau menjalankan LiveCD (sehingga nanti bisa install kalau mau), dan beberapa pilihan lain yang gak penting. Proses booting dihiasi dengan sebuah gambar splash dari Ubuntu, tidak seperti booting a la Linux yang lain (yang ngeluarin banyak tulisan-tulisan techie yang gak dimengerti oleh 90% populasi). Seperti slogannya, Ubuntu – Linux for Human Beings. Ubuntu – Linux untuk manusia biasa (bukan judul lagu loh).

Begitu boot selesai… Wow!!! Gw terkesan karena… ada suara yang keluar :)) Akhirnya ada juga Linux yang mau memperhatikan sound card gw!!! Asik juga dengerin suara Ubuntu saat start up, kesannya seperti eksotis Afrika gitu ^^ Nuansa desktopnya (wallpaper, theme, pilihan warna dll) didominasi coklat, makin menambah suasana ke-Afrikaannya. Cuma ada satu masalah… resolusinya masih 800×600 :( Ya sudah gak apa apa kok, gw masih kepingin untuk menginstallnya ke harddisk, berdasarkan lemotnya penggunaan LiveCD (buka OpenOffic.org Writer aja sampe 5 menit nunggu…).

Sebelumnya gw khawatir mengenai masalah partisi karena gw lagi ga punya alat-alat partisi seperti PartitionMagic. Eh ternyata CD Ubuntu sudah dilengkapi partition tool dengan nama GParted. Dengan program yang mudah digunakan ini (cuma klak-klik geser-geser), gw bisa mengecilkan partisi NTFS gw yang kedua (yang isinya cuma data doang, Windows ada di partisi lain) dengan mudah dan tanpa kesalahan. Dan gw tidak membackup data apapun… yang ini TIDAK dianjurkan. Selalu back up semua data penting kalau mau partisi atau menginstall OS apapun. Alasan gw gak backup juga karena data yang ada di partisi tersebut adalah data gak jelas semua yang gak penting dan bisa dicari lagi di internet. (yang penting sih ada di My Documents dong!)

Dari awal Ubuntu sudah menyajikan shortcut untuk melakukan instalasi. Tetapi pas gw coba, di step mengenai partisi selalu hang. Sebenarnya kalau berjalan lancar, kita gak perlu lagi secara manual membuat partisi untuk Ubuntu karena bisa dilakukan otomatis. Tetapi karena tidak bisa (entah salah siapa?) ya gw buat unallocated space (bagian kosong) dulu dengan GParted (dengan mengecilkan salah satu partisi). Setelah itu baru jalankan instalasi; Ubuntu akan mendeteksi ruang kosong tersebut, barulah proses instalasi bisa jalan.

Setelah install selesai (tunggu saja, agak lama) yang dilakukan berikutnya adalah restart komputer. Jangan lupa tarik LiveCDnya keluar! Kalau sebelumnya di komputer tersebut sudah ada OS lain seperti Windows (seperti komputer gw), maka kita akan diberi pilihan untuk boot dengan OS yang mana.

Program-Program dalam Ubuntu

Setelah kembali ke alam Afrika Ubuntu (kali ini dari hard disk… jadi kenceng deh ^^), gw buka-buka deh isi menunya. Rasanya sih semua program langganan kita sudah langsung ada substitusinya. Misalnya OpenOffice.org buat gantiin paket Microsoft Office, GIMP gantiin Photoshop (walaupun belum sebagus Photoshop sih, tapi masih OK kok!), Gaim buat macem-macem instant messenger (Gaim baru ganti nama jadi Pidgin kalo ga salah), Evolution Mail buat gantiin Outlook Express, dan Firefox buat gantiin… Firefox di Windows (iya deh, maksudnya Internet Explorer :p). Bahkan gamesnya juga asik-asik lho ;).

Ubuntu itu paling asik dipakai kalau punya akses internet kenceng. Sebab ada program yang namanya Synaptic Package Manager, yang bisa men-download program-program open source yang lu mau, lalu menginstallkan buat lu. Proses installnya ja…uh lebih gampang daripada installer Windows, kalo punya internet (menurut gw). Tinggal search aja nama programnya di Synaptic, klik, terus Apply. nanti Synaptic akan mendownloadkan semuanya buat lu terus menginstallkannya juga. (Btw, tiap unit download disebut Package, yang biasanya berekstensi .deb yang mendapat namanya dari Debian yaitu OS basis Ubuntu.)

Terus Gimana dengan Driver?

Seperti yang gw bilang tadi, sound card gw gak masalah, dan yang lainnya (USB flashdisk, keyboard, mouse, dll) juga jalan seperti biasa. Cuman display ini loh yang bikin gemes (cuma bisa 800×600). Tapi setelah gw googling, eh ternyata ketemu cara bikin resolusi layar jadi 1024×768 (dengan driver gw tentunya). Jadinya cakep sih, cuma aspect ratio-nya agak bermasalah (ada space hitam di kiri kanan, jadi displaynya kayak tertekan jadi lebih kotak). Gak terlalu mengganggu sih tapi kalau ada yang bisa benerin tolong kasih tau ya!

Untuk dial-up modem, sebenarnya Ubuntu sudah bisa menggunakannya dari awal, cuman konfigurasinya aja yang agak repot. Gw udah bisa konek dengan pon / poff / pppconfig, tapi masih harus pakai terminal. Kalau pake gnome-ppp bisa mirip “connect to …”-nya Windows (harus download dulu).

Untuk printer belum dicoba tapi harusnya sih bisa jalan seperti biasa.

Lain-Lain

Filesystemnya Windows (NTFS) sebenarnya bisa dibaca oleh Ubuntu, tapi belum bisa edit / buat / delete file. Jadi lagu-lagu lu semuanya bisa di-play tetapi lu ga bisa edit My Documents misalnya. Tetapi gw denger ada extension untuk bisa nulis ke NTFS untuk Ubuntu. O iya, pada awalnya gw gak bisa mengakses partisi Windows dari Ubuntu, tapi akhirnya bisa dengan mengedit /etc/fstab sesuai Helpnya Ubuntu.

Satu lagi yang penting: Ubuntu tidak bisa memainkan MP3 sebelum diinstallkan macam-macam. Sebabnya apa lagi kalo bukan si pemegang lisensi MP3 yang (kalo ga salah) minta-minta upeti tiap ada program yang bisa mainin format MP3. Sama juga dengan beberapa file format proprietary yang lain. Menyelesaikannya gampang, ada kok package apa yang perlu diinstall di Help-nya Ubuntu. Atau install aja media player XMMS yang langsung bisa memainkan MP3.

O iya, ada lagi satu program yang bisa membuat semua orang menganga kalau ngeliat kompie lu, Beryl namanya. Tapi installnya agak tricky, dan tak ada di databasenya Synaptic. Gw bakal nulis tentang ini kapan-kapan.

Penutup

Ubuntu memang bagus kok. Tidak ada salahnya mencoba walaupun terbentur kesulitan di sana-sini. Apalagi nanti kalau udah berhasil install Beryl, pasti langsung jatuh cinta deh ;). Makanya, download ISO Ubuntu, burn dan coba sendiri, atau minta dikirimin CD dari Ubuntu (wah yang ini gak tau deh, bisa nyampe apa nggak ke Indonesia?).

| tags:

8 comments

Sip

Saya juga dah 100% pake ubuntu 7.04 Feisty Fawn. 1 CD Ubuntu 7.04 dan 4 DVD Repository, hasilnya luar biasa, tampa harus nyabung ke internet kita sudah punya OS yang lengkap dengan ribuan aplikasi. Driver juga. Bisa buat 3D seperti Vista juga lho ...

by Alex, June 20, 2007 - 13:40

Enak yah punya DVD

Enak yah punya DVD repositorynya. Apakah minta dikirim gratis? Kalau download sendiri rasanya terlalu berat yah...

(btw, ngepost ini pake Ubuntu lho)

by Leon, June 20, 2007 - 23:45

sebenarnya ampuhnya linux

sebenarnya ampuhnya linux itu justru di terminalnya itu lho. hehehe..
g malah lebih demen pake terminalnya...

by cs_1912, March 11, 2008 - 18:57

Oh, iya sih bener banget

Oh, iya sih bener banget tuh, cuma belum gw tulis aja. Sekarang kalau pake CLInya Windows rasanya gemes karena terlalu cupu...

O iya, salam kenal juga ya, anak smukie...

by Leon, March 11, 2008 - 22:40

gyahaha salam kenal

gyahaha
salam kenal juga.
dah kelas 3 ye..

haha, cli windows kaga terlalu bisa apa2, bahkan terkesan tersembunyi klo g bilang.
justru yang kuat dari linuxnya itu ya terminalnya, hahaha

by cs_1912, March 15, 2008 - 22:23

Gmna cra dpetkan dvd

Gmna cra dpetkan dvd repository linux.? aku pake ubuntu 7.10 tapi mp3nya tdk bisa main, termasuk memainkan file exstansi .dat (video).? Tolong solusinya.!

by Erif, April 8, 2008 - 12:15

Saya kurang begitu tahu,

Saya kurang begitu tahu, tapi rasanya memang codec MP3 dan .dat harus didownload sendiri. Caranya ada pada helpnya Ubuntu (kalau tidak salah), coba cari mengenai "proprietary format" atau "mp3".

by Leon, April 8, 2008 - 21:15

Aku

Aku pemula ubuntu.Pake 8.04.1
belum bisa muter mp3 dan klo shutdown ga bisa mati, cuma system halted . Gmana ya ..
Tlong ya

by Rifai bejo, July 23, 2008 - 23:05

Post new comment

When replying to comments, you are encouraged to use the corresponding "reply" link in the comments. Your reply will then be placed under the comment, easing conversation and reading.
The content of this field is kept private and will not be shown publicly.
  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Allowed HTML tags: <a> <em> <strong> <cite> <code> <ul> <ol> <li> <dl> <dt> <dd> <blockquote> <pre>
  • Lines and paragraphs break automatically.